Memuat halaman...
Memuat halaman...


Banyak yang mengira lulusan Biologi akan berkarier di laboratorium atau dunia akademik. Namun, perjalanan Kak Dhimas membuktikan bahwa ilmu Biologi dan Lingkungan memiliki ruang yang luas, termasuk di industri pertambangan yang dikenal memiliki tingkat risiko tinggi.
Dengan latar belakang S1 Biologi Lingkungan di ITS, Kak Dhimas mengawali ketertarikannya pada bidang lingkungan karena ingin memahami interaksi ekosistem serta dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan. Hingga akhirnya, ketertarikan tersebut membawanya masuk ke dunia pertambangan.
Langkah awal Kak Dhimas di industri pertambangan dimulai sebagai Biodiversity Field Surveyor. Berhadapan langsung dengan kondisi site menjadi pengalaman yang tidak hanya menantang, tetapi juga membuka perspektif baru mengenai penerapan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar adalah beradaptasi dengan kondisi lapangan yang ekstrem sekaligus menerjemahkan teori menjadi praktik. Namun, hal yang paling menarik justru ketika harus melakukan identifikasi spesies di area yang telah mengalami gangguan dan membuktikan bahwa kawasan tersebut masih memiliki nilai ekologis.
Kini, Kak Dhimas dipercaya sebagai Environmental Supervisor di PT Arutmin Indonesia. Dalam posisi tersebut, tanggung jawabnya tidak hanya berkaitan dengan pemantauan lingkungan, tetapi juga mencakup kepatuhan terhadap regulasi, pengawasan reklamasi dan revegetasi, perencanaan pascatambang, koordinasi dengan berbagai stakeholder, hingga pelaksanaan audit internal maupun eksternal.
Perjalanan dari seorang surveyor menuju posisi supervisor tentu tidak terjadi dalam semalam. Salah satu booster karier yang dirasakan Kak Dhimas adalah ketika mampu menangani objective penting perusahaan dan memberikan solusi konkret.
“Memberikan solusi konkret, bukan hanya laporan sehingga menjadi problem solver.”
Bagi Kak Dhimas, seorang profesional tidak cukup hanya mampu menemukan permasalahan. Kemampuan untuk memberikan solusi yang dapat diterapkan menjadi nilai tambah yang sangat penting dalam perkembangan karier.
Menariknya, perjalanan karier Kak Dhimas tidak berhenti pada kompetensi lingkungan. Pada tahun 2021, ia mengambil sertifikasi Ahli K3 Umum dan berbagai sertifikasi ISO melalui Garuda Systrain Interindo.
Mengapa seorang praktisi Biologi/Lingkungan perlu mempelajari K3?
Jawabannya sederhana: aktivitas lingkungan di industri pertambangan hampir selalu berlangsung di area yang memiliki risiko keselamatan.
Menurut Kak Dhimas, background lingkungan saja tidak cukup. Seorang praktisi juga perlu memahami risk assessment, hazard identification, serta safety culture.
Sertifikasi K3 tersebut kemudian memberikan dampak yang signifikan terhadap proses adaptasinya di industri pertambangan. Pemahaman mengenai K3 membuatnya lebih cepat beradaptasi dengan sistem kerja tambang, lebih memahami aktivitas operasional secara menyeluruh, serta meningkatkan kepercayaan dari manajemen.
Hal tersebut juga diperkuat dengan kompetensi lainnya, seperti Higiene Industri Madya (HIMA) dan Pengawas Operasional Madya (POM). Bagi Kak Dhimas, ilmu K3 dan lingkungan tidak dapat dipisahkan.
Setiap keputusan yang berkaitan dengan lingkungan dapat bersinggungan dengan aspek keselamatan. Karena itu, kemampuan mengintegrasikan perspektif lingkungan dan K3 menjadi bagian penting dalam mengambil keputusan strategis sebagai seorang supervisor.
Bagi sebagian orang, sertifikasi mungkin hanya dianggap sebagai dokumen tambahan di CV. Namun, pengalaman Kak Dhimas menunjukkan bahwa sertifikasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan value seorang profesional.
Menurutnya, sertifikasi memiliki pengaruh yang cukup besar ketika seseorang ingin meningkatkan posisi atau melakukan career bargaining saat berpindah pekerjaan. Sertifikasi menunjukkan bahwa seseorang memiliki kompetensi sekaligus kesiapan untuk memasuki jenjang karir yang lebih tinggi. Bahkan, jika melihat perjalanan pendapatannya secara umum, Kak Dhimas menyebut bahwa terdapat peningkatan sekitar 5–10 kali lipat dibandingkan penghasilan awalnya.
Namun, perkembangan karier tentu tidak hanya berbicara tentang pendapatan. Bekerja di industri pertambangan juga memberinya berbagai pengalaman dan fasilitas, mulai dari akomodasi, konsumsi, transportasi, sistem rotasi kerja, hingga kesempatan mendapatkan exposure terhadap proyek-proyek berskala besar.
Lalu, apakah ilmu yang dipelajari saat kuliah benar-benar terpakai setelah masuk dunia kerja? tentu. Kak Dhimas menyebut beberapa mata kuliah seperti Ekologi dan AMDAL yang memiliki keterkaitan langsung dengan pekerjaannya, terutama dalam aktivitas seperti reclamation planning dan biodiversity monitoring.
Namun, menurutnya ada satu hal yang tidak kalah penting dari ilmu akademik, yaitu pengalaman berorganisasi. Organisasi membantu membentuk karakter yang komunikatif, adaptif, dan memiliki critical thinking. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan ketika harus bekerja bersama berbagai pihak di lingkungan industri.
Karena itu, bagi mahasiswa Biologi maupun Teknik Lingkungan yang ingin berkarir, Kak Dhimas memberikan beberapa saran:
Pengalaman Kak Dhimas juga membuatnya melihat secara langsung bagaimana pengelolaan lingkungan berperan dalam pencapaian PROPER. Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara perusahaan yang berfokus pada peringkat Biru dengan perusahaan yang menargetkan Hijau atau Emas.
Jika Biru lebih berfokus pada kepatuhan terhadap regulasi, maka Hijau dan Emas menuntut perusahaan untuk bergerak lebih jauh melalui pendekatan beyond compliance, inovasi, serta perhatian terhadap dampak sosial dan keberlanjutan. Salah satu aspek yang menurutnya sangat krusial adalah Life Cycle Assessment (LCA).
Data LCA yang akurat dapat membantu perusahaan menemukan hotspot dalam proses bisnis. Dari sana, perusahaan dapat merancang program atau inovasi yang benar-benar menjawab akar permasalahan.
Dalam konteks konservasi dan keanekaragaman hayati, program yang baik juga tidak cukup hanya dibuat untuk memenuhi kebutuhan dokumentasi. Baseline data harus akurat dan berkelanjutan, target harus dapat diukur, program harus memberikan dampak nyata, serta monitoring perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Bagi Kak Dhimas, inovasi yang berpotensi menjadi pembeda dalam pencapaian PROPER Emas adalah inovasi yang berangkat dari analisis data LCA, mampu menjawab hotspot, dan memberikan dampak yang besar bagi masyarakat.
Perjalanan Kak Dhimas menunjukkan bahwa karier di bidang lingkungan tidak harus berjalan dalam satu jalur yang linear. Latar belakang Biologi membangun pemahaman mengenai ekosistem dan lingkungan. Pengalaman di lapangan membentuk kemampuan praktis. Sementara sertifikasi K3 dan ISO memperluas perspektif terhadap keselamatan, sistem manajemen, dan kebutuhan industri.
Ketika seluruh kompetensi tersebut digabungkan, seorang praktisi lingkungan tidak hanya mampu membuat laporan, tetapi juga dapat memahami risiko, menemukan masalah, menyusun solusi, dan mengambil keputusan yang lebih komprehensif.
Pesan terpenting dari perjalanan Kak Dhimas adalah bahwa career upgrade membutuhkan kemauan untuk terus belajar dan memperluas kompetensi. Sertifikasi bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan karier. Namun, ketika dikombinasikan dengan pengalaman, kemampuan memecahkan masalah, pemahaman regulasi, serta kemampuan beradaptasi, sertifikasi dapat menjadi salah satu booster untuk membuka peluang menuju jenjang karir yang lebih tinggi.
Dan bagi para lulusan Biologi maupun Teknik Lingkungan yang ingin masuk ke industri pertambangan, jangan merasa bahwa background pendidikan menjadi batas. Karena terkadang, career path terbaik justru dimulai ketika kita berani masuk ke bidang yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.