Memuat halaman...
Memuat halaman...

Lebih dari 10 tahun berkecimpung sebagai HSSE Practitioner membuat Jumansyah memahami bahwa membangun karir di bidang K3 tidak cukup hanya dengan mengandalkan pengalaman. Kompetensi harus terus dikembangkan agar seorang profesional mampu mengambil tanggung jawab yang semakin besar.
Saat ini, Jumansyah dipercaya sebagai HSSE Manager di PT Asta Rekayasa Unggul. Namun, posisi tersebut tidak diraih dalam satu langkah. Ada perjalanan panjang, perpindahan industri, pengalaman di lapangan, hingga keputusan untuk terus meningkatkan kompetensi melalui berbagai pelatihan dan sertifikasi.
Salah satu turning point dalam perjalanan karier Jumansyah terjadi ketika ia berpindah dari perusahaan jasa repair alat berat ke perusahaan jasa konstruksi migas. Perpindahan tersebut membuka kesempatan untuk mendapatkan pengalaman di industri yang memiliki tuntutan keselamatan tinggi. Momen penting lainnya terjadi ketika Jumansyah memperoleh kesempatan mengikuti program pelatihan gratis dari TOTAL E&P untuk mengikuti training Operator K3 Migas di Cepu.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik yang semakin memperkuat perjalanan karirnya di bidang HSSE. Menurut Jumansyah, kesempatan besar terkadang datang tanpa pemberitahuan. Karena itu, seorang profesional perlu mempersiapkan dirinya sebelum kesempatan tersebut datang.
Dalam dunia kerja, istilah HSE dan HSSE masih sering dianggap sama. Padahal, terdapat tambahan aspek Security dalam HSSE. Jika HSE berfokus pada aspek Health, Safety, dan Environment, maka HSSE menambahkan tanggung jawab terhadap aspek keamanan operasional. Pendekatan ini banyak ditemukan pada industri dengan tingkat risiko tinggi seperti migas dan pertambangan.
Bagi Jumansyah, pengelolaan HSSE juga harus memperhatikan potensi risiko dari lingkungan sosial dan keamanan di sekitar operasional perusahaan. Salah satu pendekatannya adalah melakukan risk assessment yang mencakup aspek societal dan security. Perusahaan juga berupaya memprioritaskan pemuda lokal dalam proses rekrutmen sebagai bagian dari pendekatan terhadap lingkungan sosial di sekitar operasional.
Dalam perjalanan kariernya, Jumansyah juga terus memperkuat kompetensinya melalui pelatihan dan sertifikasi. Sebagai alumni Garuda Systrain Interindo, ia telah mengikuti:
Keputusan mengambil AK3U Kemnaker bukan hanya karena ingin menambah pengetahuan. Saat menjabat sebagai HSE Coordinator, ia memiliki kebutuhan profesional karena salah satu client, Pertamina Hulu Mahakam, mewajibkan posisi HSE Coordinator memiliki kompetensi Ahli K3 Umum Kemnaker.
Sementara itu, pelatihan Auditor SMK3 Kemnaker diambil karena Jumansyah memiliki rencana untuk mendukung proses audit dan sertifikasi SMK3 perusahaan. Tidak berhenti di sana, ia juga mengambil IMS Level Auditor untuk memahami bagaimana mengimplementasikan standar ISO 9001, ISO 14001, dan ISO 45001 secara benar dan efektif sesuai klausul yang berlaku.
Bagi Jumansyah, setiap sertifikasi memiliki fungsi yang berbeda. Semuanya menjadi bagian dari upaya membangun kompetensi yang lebih lengkap sebagai praktisi HSSE.
Lalu, seberapa besar dampaknya terhadap karier? Jawabannya menurut Jumansyah cukup sederhana:
“Sangat besar sampai dipromosikan jadi HSSE Manager.”
Pelatihan dan sertifikasi membantunya meningkatkan skill, kepercayaan diri, sekaligus kredibilitas profesional. Kompetensi tersebut juga menjadi bekal ketika tanggung jawab pekerjaannya semakin besar.
Dalam posisi HSSE Manager, salah satu tanggung jawab penting yang melekat adalah peran sebagai Sekretaris P2K3. Karena itu, kompetensi dan persyaratan sebagai Ahli K3 menjadi semakin relevan dalam menjalankan tanggung jawab tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa sertifikasi bukan sekadar tambahan di CV. Pada kondisi tertentu, sertifikasi menjadi bagian dari persyaratan profesional sekaligus mendukung kesiapan seseorang untuk menduduki posisi yang lebih tinggi.
Menjadi HSSE Manager tentu bukan hanya tentang memiliki sertifikat. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan sistem HSSE benar-benar diterapkan dalam operasional. Menurut Jumansyah, salah satu strategi paling fundamental adalah membangun komitmen dari top management.
Sistem manajemen K3 dan berbagai program K3 tidak akan berjalan optimal apabila hanya menjadi tanggung jawab departemen HSSE. Dukungan dan komitmen manajemen puncak dibutuhkan agar aspek keselamatan benar-benar menjadi bagian dari pengambilan keputusan dan budaya perusahaan.
Dengan komitmen tersebut, program HSSE dapat bergerak dari sekadar compliance di atas kertas menjadi sistem yang benar-benar diterapkan dalam aktivitas operasional.
Bagi sebagian orang, mengikuti banyak pelatihan dan sertifikasi mungkin dianggap sebagai pengeluaran tambahan. Namun, bagi Jumansyah, investasi tersebut dapat memberikan return dalam jangka panjang.
Ia melihat bahwa peningkatan kompetensi dapat membuka peluang untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Ketika posisi meningkat, terdapat kemungkinan peningkatan pendapatan yang mengikuti tanggung jawab dan value yang diberikan kepada perusahaan.
Dengan kata lain, sertifikasi bukan hanya tentang mendapatkan selembar dokumen. Yang lebih penting adalah pengetahuan, kompetensi, dan kesiapan yang dibangun melalui proses belajar tersebut.
Perjalanan Jumansyah dari HSE Practitioner hingga menjadi HSSE Manager memberikan satu pelajaran penting: karier tidak berkembang jika kompetensi berhenti berkembang. Di dunia kerja yang semakin kompetitif, orang yang terus belajar akan memiliki nilai lebih.
Karena itu, jangan menunggu sampai perusahaan meminta sertifikasi. Jangan pula menunggu sampai peluang promosi datang baru mulai mempersiapkan diri. Seperti pesan Jumansyah:
“Kesempatan besar sering datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.”
Maka, tugas kita adalah mempersiapkan diri sedini mungkin. Terus belajar, tingkatkan kompetensi, dan lengkapi diri dengan sertifikasi yang relevan. Karena ketika kesempatan untuk naik level akhirnya datang, kita tidak lagi bertanya “Apakah saya siap?” Kita sudah siap untuk mengambilnya.