Memuat halaman...
Memuat halaman...


Bagi sebagian orang, karir di bidang HSE mungkin dimulai dari bangku kuliah atau posisi yang sejak awal memang berkaitan dengan keselamatan kerja. Namun, perjalanan Agus Setiawan justru dimulai dari lapangan sebagai Refractory Installer.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi pondasi penting yang membawanya berkembang di dunia K3. Berhadapan langsung dengan berbagai potensi bahaya membuat Agus memahami bahwa keselamatan kerja bukan sekadar prosedur atau dokumen, tetapi sesuatu yang menyangkut keselamatan dan kehidupan pekerja.
Saat bekerja sebagai Refractory Installer, Agus berada langsung di lingkungan dengan berbagai risiko. Mulai dari paparan debu silika, pekerjaan di ruang terbatas (confined space), potensi runtuhan bata tahan api, hingga paparan suhu ekstrem dan heat stress. Pengalaman tersebut membuatnya melihat secara langsung bagaimana kelalaian kecil dapat menimbulkan konsekuensi yang fatal.
Dari situlah muncul kesadaran bahwa perlindungan pekerja tidak dapat hanya mengandalkan keberuntungan. Keselamatan harus dikelola secara sistematis melalui manajemen risiko yang tepat. Pengalaman empiris di lapangan tersebut kemudian menumbuhkan ketertarikannya untuk berkembang lebih jauh di dunia K3.
Perjalanan dari Refractory Installer hingga menangani fungsi HSE memberikan Agus satu pelajaran penting: tugas HSE bukan sekadar menghentikan pekerjaan.
Menurutnya, seorang praktisi HSE justru harus mampu menjadi fasilitator dan pemecah masalah. Tantangannya adalah bagaimana menemukan metode kerja yang tetap aman tanpa menghambat kebutuhan operasional. Baginya, keselamatan dan produktivitas bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Justru seorang HSE harus mampu membantu tim menemukan cara kerja yang efektif sekaligus selamat.
Salah satu titik balik penting dalam perjalanan karier Agus adalah ketika ia memutuskan mengikuti sertifikasi Ahli K3 Umum (AK3U) Kemnaker RI di Garuda Systrain.
Bagi Agus, keputusan tersebut bukan hanya tentang mendapatkan sertifikat. Ia melihat pelatihan sebagai kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus membangun koneksi dengan para praktisi dan senior di bidang HSE.
Lingkungan belajar yang memberikan ruang untuk berbagi, berdiskusi, dan berkonsultasi membuatnya memiliki tempat untuk memvalidasi berbagai keputusan ketika menghadapi persoalan di lapangan.
Menurutnya, jaringan alumni dan pengalaman yang didapatkan selama mengikuti pelatihan menjadi salah satu modal penting dalam perkembangan karirnya. Bahkan, Agus menilai sertifikat AK3U dari Garuda Systrain sebagai salah satu “golden ticket” dalam perjalanan kariernya.
Pengalaman bekerja di industri refractory, mechanical, hingga production membuat Agus memahami bahwa tidak ada satu pendekatan K3 yang dapat diterapkan secara sama di semua sektor. Setiap industri memiliki karakteristik bahaya, budaya kerja, dan dinamika operasional yang berbeda.
Di industri refractory, misalnya, perhatian besar diberikan pada risiko kesehatan kerja jangka panjang, paparan debu, heat stress, serta pekerjaan di ruang terbatas. Sementara di pekerjaan mechanical, tantangannya lebih banyak berkaitan dengan pekerjaan berisiko tinggi seperti lifting operation, working at height, dan hot work. Kepatuhan terhadap sistem Permit to Work menjadi sangat penting karena sedikit kelalaian dapat berujung pada kecelakaan.
Berbeda lagi dengan lingkungan produksi. Tantangan yang sering muncul adalah complacency, ketika pekerja sudah terlalu terbiasa melakukan pekerjaan yang sama sehingga mulai mengabaikan prosedur keselamatan. Misalnya, melepas safety guard mesin agar pekerjaan lebih cepat atau mengabaikan penggunaan APD.
Kondisi tersebut juga dapat mempertemukan tim HSE dengan tekanan target produksi. Karena itu, Agus memegang prinsip:
“Tidak ada pekerjaan yang tidak bisa dihentikan untuk keselamatan.”
Agus memilih Garuda Systrain bukan hanya karena ingin mendapatkan sertifikasi. Menurutnya, kualitas lembaga pelatihan, mentor yang merupakan praktisi senior, serta jaringan alumni menjadi nilai penting dari sebuah pelatihan profesional.
Baginya, biaya pelatihan bukan sekadar biaya untuk memperoleh selembar sertifikat. Pelatihan juga menjadi kesempatan untuk masuk ke dalam jaringan profesional, bertukar pikiran mengenai permasalahan proyek, mencari solusi, hingga mendapatkan informasi peluang karier.
Dampaknya terhadap karier pun ia rasakan secara signifikan. Agus memperkirakan kontribusi pelatihan Garuda Systrain terhadap percepatan kariernya mencapai lebih dari 70%, dengan sertifikasi AK3U sebagai salah satu bekal penting dalam perjalanan tersebut. Ia juga terus menambah sertifikasi lain sesuai kebutuhan pekerjaannya.
Menurut Agus, sertifikasi AK3U merupakan pondasi penting bagi seorang praktisi K3. Namun, ketika ingin berkembang menuju level Supervisor, HSE Coordinator, hingga HSE Manager, kompetensi perlu terus diperbarui dan diperluas. Ia menyarankan praktisi K3 untuk mengambil sertifikasi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan posisi yang ingin dituju.
Beberapa kompetensi yang menurutnya dapat menjadi pengembangan lanjutan antara lain spesialis Pesawat Angkat Angkut, Pesawat Uap dan Bejana Tekan, Fire, K3 Listrik, K3 Konstruksi, POM, Auditor SMK3, Lead Auditor SMK3, CSMS, hingga kompetensi pendukung seperti AGT, Scaffolding Inspector, dan TKPK.
Prinsipnya sederhana:
Jika ingin terus melangkah, sertifikasi dan kompetensi juga harus terus diperbarui sesuai kebutuhan perusahaan.
Lebih dari 10 tahun berkecimpung di dunia K3 membuat Agus menyadari bahwa tantangan terbesar seorang praktisi HSE tidak selalu berkaitan dengan dokumen, risk assessment, ataupun regulasi. Salah satu tantangan yang paling menguras energi justru adalah menghadapi resistance to change dari dua sisi sekaligus: pekerja lapangan dan manajemen.
Di satu sisi, HSE terkadang dianggap sebagai “polisi” yang menghambat pekerjaan. Di sisi lain, fungsi HSE dapat dipandang sebagai cost center karena membutuhkan anggaran untuk menjalankan berbagai program keselamatan. Karena itu, membangun budaya safety membutuhkan pendekatan yang lebih dari sekadar aturan dan sanksi.
Menurut Agus, anggapan bahwa K3 memperlambat pekerjaan merupakan tantangan klasik yang sering ditemui di lapangan. Pekerja memiliki target dan deadline, sementara prosedur seperti Permit to Work, ILS/LOTO, dan penggunaan APD membutuhkan waktu dan kedisiplinan.
Untuk mengubah paradigma tersebut, Agus menggunakan pendekatan “Integration & Empathy”. Budaya safety menurutnya tidak akan tumbuh jika hanya dibangun melalui surat peringatan atau denda. Pekerja juga perlu mendapatkan apresiasi ketika mampu menunjukkan perilaku kerja yang aman.
Salah satu contoh program yang diterapkan adalah Safety Worker of the Month atau Best Safety Team. Pekerja atau tim yang konsisten menerapkan keselamatan diberikan penghargaan dalam Toolbox Meeting. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menciptakan kompetisi positif sekaligus meningkatkan kepedulian pekerja terhadap keselamatan.
Bagi Agus, profesional HSE yang baik tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan interpersonal. Dari sisi hard skill, seorang praktisi HSE perlu memahami penyusunan HIRA/JSA dan SOP, regulasi seperti ISO 45001 dan SMK3, investigasi kecelakaan, tanggap darurat, hingga pengelolaan limbah B3.
Sementara dari sisi soft skill, kemampuan public speaking, pendekatan personal, memberikan teguran dan argumentasi, leadership, serta menjadi role model sangat diperlukan. Menjadi role model berarti menunjukkan langsung perilaku yang ingin dibangun di lingkungan kerja: menggunakan APD dengan lengkap, mematuhi prosedur, dan menunjukkan sikap profesional.
Perjalanan Agus Setiawan menunjukkan bahwa karier di bidang K3 dapat berkembang dari pengalaman lapangan, selama seseorang memiliki kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensinya. Ia pun memiliki pesan khusus bagi pekerja maupun fresh graduate yang masih ragu mengikuti pelatihan dan sertifikasi profesional.
“Jangan menunggu kesempatan datang baru Anda bersiap, tetapi bersiaplah sekarang agar ketika kesempatan itu datang, Anda sudah siap mengambilnya.”
Menurut Agus, sertifikasi profesional di bidang HSE bukan sekadar pemanis CV. Sertifikasi dapat menjadi salah satu kunci untuk membuka peluang dan meningkatkan kesiapan profesional. Karena itu, jangan biarkan keraguan membuat langkah terhenti.
Sepatu keselamatan yang kokoh tidak akan membawa kita ke mana-mana jika kita tidak berani melangkah. Mulailah belajar, tingkatkan kompetensi, dan persiapkan diri untuk kesempatan yang mungkin datang kapan saja. Tetap semangat. Utamakan selamat.